Halo Sobat Kampus dan pencinta teknologi! Buat kalian yang hobi mengikuti perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), ada kabar besar nih dari kancah global. Perusahaan teknologi raksasa asal China, SenseTime, baru saja mengumumkan peluncuran sebuah inisiatif ambisius yang dinamakan Galaxy Project. Nggak tanggung-tanggung, mereka menggandeng hampir 20 mitra strategis untuk menskalakan infrastruktur chip AI buatan lokal di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Dalam pidato utamanya yang bertajuk 'Intelligent Transformation and Symbiosis', Yang Fan selaku co-founder sekaligus presiden Large Device Business Group di SenseTime, memaparkan sebuah konsep siklus tertutup. Konsep ini menghubungkan teknologi tingkat chip, kemitraan ekosistem, hingga penerapan komersial untuk mendongkrak kekuatan komputasi AI domestik. Langkah ini tentu menjadi angin segar di tengah dominasi hardware asing, sekaligus membuka cakrawala baru bagi dunia riset dan industri.

Ambisi Besar dan Proyeksi Angka yang Bikin Penasaran

Dalam pemaparannya, Yang Fan menyoroti tiga tren utama yang mendorong momentum ini: lonjakan permintaan token di berbagai korporasi, adopsi AI industri yang mulai mengejar penggunaan konsumen, dan komersialisasi chip lokal yang kini memungkinkan pusat komputasi cerdas dibangun dengan kecepatan tinggi. SenseTime mengklaim platform perangkat skala besarnya kini memproses rata-rata 2,42 triliun token setiap harinya. Mereka bahkan memproyeksikan angka tersebut akan meroket hingga 25 kali lipat menjadi 10 triliun token per hari pada kuartal keempat tahun 2026 mendatang.

Meski begitu, angka-angka fantastis ini masih sebatas proyeksi internal perusahaan dan belum diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga. Buat kalian yang mendalami studi bisnis atau analisis data, klaim seperti ini tentu perlu disikapi dengan kritis. Klaim efisiensi biaya juga menyertai pertumbuhan tersebut, di mana teknologi inference hibrida heterogen buatan SenseTime diklaim mampu memberikan peningkatan Model FLOPs Utilisation hingga 152 persen pada chip domestik mainstream, dengan efektivitas biaya mencapai 1,25 kali lipat dibanding part H-series milik Nvidia.

Mengatasi Masalah Fragmentasi Software Multi-Chip

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan chip AI domestik selama ini adalah tumpukan software yang terfragmentasi (fragmented software stack). Sering kali, model yang dilatih untuk satu arsitektur hardware harus dirombak total agar bisa berjalan di arsitektur lainnya. Untuk mengatasi masalah klasik ini, SenseTime mengeklaim telah membangun lapisan adaptasi full-stack yang mencakup models, frameworks, operators, toolchains, dan hardware.

Tujuannya jelas: memudahkan pengguna memigrasikan workloads antar vendor chip domestik tanpa harus melakukan rewrites secara ekstensif. Dalam uji coba terapan, mereka mencatatkan optimasi operator terfusi yang memangkas waktu prediksi protein AI4S hingga tiga kali lipat, serta akselerasi paralel multi-kartu sebesar 93 persen untuk video generation AIGC yang menjalankan model DiT.

Standar Efisiensi Energi Baru dan Jaringan Mitra Kelas Kakap

Nggak cuma fokus pada performa mentah, SenseTime juga memperkenalkan metrik efisiensi baru bernama Tokens Per Watt sebagai pengganti tolok ukur tradisional untuk pusat data AI. Dipadukan dengan Computing-Power Collaboration Agent yang mengatur penjadwalan sumber daya dan prediksi harga listrik, mereka mengeklaim adanya peningkatan output token per unit biaya listrik hingga 80 persen.

Ekosistem yang dibangun melalui Galaxy Project ini juga melibatkan nama-nama besar di industri hardware dan komponen, seperti Cambricon, Muxi, Hygon, Huawei Ascend, Moore Threads, Sunrise, Biren Technology, hingga Silicon Motion. Rencana besarnya mencakup pembangunan satu pabrik token, lima klaster komputasi skala besar, kolaborasi dalam sepuluh arah teknologi, dan dukungan penuh bagi 200 startup AI.

Ekspansi ke Luar Angkasa dan Infrastruktur Global

Yang bikin takjub, visi SenseTime nggak cuma berhenti di pusat data bumi. Mereka juga meneken perjanjian komputasi luar angkasa dengan produsen satelit Guoxing Aerospace untuk membangun konstelasi komputasi luar angkasa, dengan target peluncuran satelit pertama di tahun 2026 dan ribuan satelit pada 2030 mendatang. Langkah ini ditujukan untuk memperluas jangkauan layanan AI ke area dengan jaringan lemah seperti operasi maritim dan tanggap darurat bencana.

Dari sisi infrastruktur fisik, fasilitas Shanghai mereka telah menjalankan pusat data tingkat cerdas 5A pertama di negara tersebut. Selain itu, mereka juga merambah kancah internasional dengan merencanakan klaster komputasi domestik luar negeri pertama di Arab Saudi sebagai basis bagi kawasan Timur Tengah. Kolaborasi riset dengan berbagai institusi terkemuka seperti Shanghai Jiao Tong University juga terus diperkuat demi mendorong inovasi sains mendasar melalui inisiatif AI for Science.

Bagi mahasiswa yang tertarik dengan perkembangan teknologi masa depan, dinamika industri semikonduktor dan infrastruktur AI ini adalah studi kasus nyata tentang bagaimana kemandirian teknologi sedang diupayakan di skala global. Mari kita nantikan apakah target-target ambisius SenseTime di tahun 2026 dan 2030 akan benar-benar terwujud di lapangan!