Mengapa Kebijakan Otoriter Mirip dengan Dosen yang Membosankan?

Pernahkah kamu merasa terjebak di kelas dengan dosen yang hanya membaca slide PowerPoint, memberikan tugas yang tidak relevan, dan menuntut kepatuhan buta? Nah, bayangkan jika pola 'dosen bad mood' ini diterapkan dalam skala kebijakan pemerintah terhadap dunia pendidikan tinggi. Ijeoma Njaka, seorang fellow di LSE HE Blog, baru-baru ini mengamati bahwa tekanan pemerintah AS untuk menutup program DEI (Diversity, Equity, and Inclusion) sebenarnya hanyalah contoh dari 'pedagogi buruk'—sebuah cara mengajar yang cacat secara filosofi, tidak efektif, dan mustahil untuk dikontrol sepenuhnya.

Bagi kita mahasiswa, ini bukan sekadar urusan politik. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana sistem yang kaku sering kali gagal membungkam kreativitas dan semangat kritis mahasiswa.

Filosofi Pendidikan yang Ketinggalan Zaman

Pemerintah yang memaksa universitas untuk menghentikan program keberagaman sering kali menggunakan pendekatan yang oleh Paulo Freire disebut sebagai banking model of education. Ini adalah model di mana 'pengajar' (dalam hal ini otoritas) menganggap dirinya pemilik kebenaran mutlak dan 'menyetorkan' informasi ke pikiran mahasiswa yang dianggap kosong. Padahal, kita semua tahu, mahasiswa bukanlah botol kosong. Kita datang dengan pengalaman, pemikiran kritis, dan latar belakang yang unik.

Ketika pemerintah mengancam akan memotong pendanaan jika kampus tidak patuh, mereka sebenarnya sedang mempraktikkan metode paksaan yang tidak edukatif. Filosofi ini rapuh karena mengasumsikan bahwa dengan mengancam, mereka bisa mengubah nilai-nilai yang dianut masyarakat. Faktanya? Tekanan seperti ini justru memicu resistensi yang lebih cerdas.

Mengapa Metode 'Top-Down' Sering Gagal

Dunia pendidikan sudah lama mengakui bahwa metode kuliah satu arah yang kaku jarang sekali efektif membuat materi 'nempel' di ingatan jangka panjang. Sama halnya dengan kebijakan yang dipaksakan. Berikut adalah alasan mengapa metode 'pedagogi buruk' ini tidak akan berhasil:

  • Tidak Adanya Keterlibatan (Engagement): Saat materi tidak relevan atau dipaksakan, mahasiswa akan kehilangan minat. Begitu pula dengan kebijakan kampus yang tidak demokratis; ia hanya akan menciptakan apatisme.
  • Subversi Kreatif: Seperti mahasiswa yang tetap berdiskusi di grup WhatsApp meski dosen melarang penggunaan HP, komunitas akademik akan selalu mencari jalan keluar (workaround) untuk tetap menjalankan nilai-nilai yang mereka yakini benar.
  • Pembelajaran Kritis: Justru karena ditekan, mahasiswa dan akademisi belajar untuk berpikir lebih kritis mengenai sistem yang ada. Pengalaman melawan arus sering kali menjadi pelajaran berharga yang tidak ada di buku teks.

Cara Mahasiswa Bertahan dan Tetap Kritis

Kamu mungkin merasa lelah melihat kebijakan kampus atau birokrasi yang terasa menindas. Namun, sadarilah bahwa agensi atau 'kekuatan untuk memilih' kamu belum sepenuhnya hilang. Berikut adalah tips bagi kamu untuk tetap berkembang di lingkungan yang menantang:

  • Cari Komunitas yang Sependapat: Bergabunglah dengan organisasi mahasiswa atau kelompok studi independen. Lingkungan yang suportif adalah benteng terbaik melawan kebijakan yang membatasi.
  • Berpikir Subversif: Gunakan kreativitasmu. Jika kurikulum terasa membatasi, perbanyak literasi di luar kelas. Gunakan sumber-sumber seperti jurnal akademik atau diskusi terbuka untuk memperluas cakrawala.
  • Jangan Takut Berpendapat: Menggunakan hak suara melalui forum resmi atau aksi damai adalah cara elegan untuk menolak 'pedagogi buruk' yang mencoba membungkam suaramu.

Kesimpulan: Tetaplah Menjadi 'Hantu di dalam Mesin'

Meskipun realitas kebijakan pendidikan mungkin tampak suram, ada harapan besar dalam fakta bahwa otoritas tidak bisa mengontrol pikiran kita sepenuhnya. Sejarah telah membuktikan bahwa sosok-sosok besar seperti W.E.B. Du Bois tetap bisa menjadi intelektual brilian meski harus melewati sistem pendidikan yang sangat diskriminatif pada masanya. Perlawanan paling efektif adalah dengan tetap belajar, tetap kritis, dan tetap menjadi diri sendiri di tengah sistem yang mencoba menyeragamkan kita.

Tetap Semangat!

Kepada teman-teman mahasiswa, siapkan CV dan portofolio terbaikmu bukan hanya untuk melamar kerja, tapi sebagai bukti bahwa kamu adalah individu yang memiliki integritas dan pemikiran kritis. Dunia luar membutuhkan orang-orang yang berani berpikir di luar batasan kebijakan yang kaku. Teruslah berkarya, tetaplah menjadi agen perubahan, dan jangan biarkan sistem mana pun memadamkan rasa ingin tahumu!